Yao Ming - Rage Face Comics
Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 10. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 10. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Maret 2019

Menghitung kecepatan bunyi

Cepat Rambat Bunyi

College Loan Consolidation Monday, March 2nd, 2015 - Kelas XII
Cepat rambat bunyi dapat diukur dengan metode resonansi. Mengukur cepat rambat gelombang bunyi dapat dilakukan dengan metode resonansi pada tabung resonator (kolom udara). Pengukuran menggunakan peralatan yang terdiri atas tabung kaca yang panjangnya 1 meter, sebuah slang karet/plastik, jerigen (tempat air) dan garputala.
Advertisment

Mengukur Cepat Rambat Bunyi

Percobaan resonansi untuk mengukur cepat rambat bunyi

Resonansi I jika :

L1 = \frac{1}{4}\lambda atau λ = 4 L1

Resonansi II jika :

L2 = \frac{3}{4}\lambda atau λ = \frac{4}{3} L2

Resonansi ke III jika :

L3 = \frac{5}{4} λ atau λ = \frac{4}{5}L3

Atau λ dapat dicari dengan

λ= 2 (L2 – L1) = (L3 – L1)
Bagaimana prinsip kerja alat ini? Mula-mula diatur sedemikian, permukaan air tepat memenuhi pipa dengan jalan menurunkan jerigen. Sebuah garputala digetarkan dengan cara dipukul menggunakan pemukul dari karet dan diletakkan di atas bibir tabung kaca, tetapi tidak menyentuh bibir tabung dan secara perlahan-lahan tempat air kita turunkan. Lama-kelamaan akan terdengar bunyi yang makin lama makin keras dan akhirnya terdengar paling keras yang pertama. Jika jerigen terus kita turunkan perlahan-lahan (dengan garputala masih bergetar dengan jalan setiap berhenti dipukul lagi), maka bunyi akan melemah dan tak terdengar, tetapi semakin lama akan terdengar makin keras kembali. Apa yang menyebabkan terdengar bunyi keras tersebut?
Gelombang yang dihasilkan garputala tersebut merambat pada kolom udara dalam tabung dan mengenai permukaan air dalam tabung, kemudian dipantulkan kembali ke atas. Kedua gelombang ini akan saling berinterferensi. Apabila kedua gelombang bertemu pada fase yang sama akan terjadi interferensi yang saling memperkuat, sehingga pada saat itu pada kolom udara timbul gelombang stasioner dan frekuensi getaran udara sama dengan frekuensi garputala. Peristiwa inilah yang disebut resonansi. Sebagai akibat resonansi inilah terdengar bunyi yang keras. Resonansi pertama terjadi jika panjang kolom udara sebesar \frac{1}{4}\lambda, peristiwa resonansi kedua terjadi jika panjang kolom udara \frac{3}{4}\lambda, ketiga jika \frac{5}{4}\lambda dan seterusnya. Dengan mengukur panjang kolom udara saat terjadi resonansi, maka panjang gelombang bunyi dapat dihitung.

Persamaan Matematis Cepat Rambat Bunyi

Oleh karena itu, cepat rambat gelombang bunyi dapat dicari dengan persamaan :
v = f × λ
dengan :
λ = panjang gelombang bunyi (m)
f = frekuensi garputala (Hz)
v = cepat rambat gelombang bunyi (m/s)
http://fisikazone.com/cepat-rambat-bunyi/http://fisikazone.com/cepat-rambat-bunyi/

TELEVISI

Gelombang Elektromagnetik Pada Televisi

Gelombang Elektromagnet Pada Televisi

Gelombang TV adalah gelombang elektromagnetik yang sangat kompleks. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa gelombang TV mengandung informasi tidak hanya suara, tetapi juga informasi dalam bentuk gambar. Oleh karena itu, gelombang TV terdiri atas :

1. gelombang “blanking”, yang berfungsi menghaspus berkas elektron pada saat “retrace” pada proses “scanning” sebuah gambar.

2. gelombang sinkronisasi vertikal dan horizontal, yang berfungsi mensinkronkan proses scanning dalam arah vertikal dan horizontal.

3. gelombang AM, yang berfungsi membawa informasi gambar.

4. gelombang FM, yang berfungsi membawa informasi suara.

Jadi sinyal suara dikirimkan dalam bentuk modulasi FM, sedangkan gambar dalam bentuk modulasi AM. Oleh karena itu, suara yang dibawa oleh gelombang TV cenderung lebih tahan terhadap gangguan kelistrikan alam, sedangkan gambar lebih mudah terganggu.

Disamping itu, karena gelombang TV mengandung gelombang FM, maka agar siaran TV dapat diterima di tempat-tempat yang jauh biasanya diperlukan pesawat pemancar ulang (relay) disekitar tempat-tempat tersebut. Dan lebih dari itu, untuk memperoleh penerimaan siaran yang sangat baik, biasanya dibantu oleh satelit buatan yang dapat menangkap dan memancarkan ulang siaran TV tersebut. Fluktuasi arus listrik atau tegangan listrik yang sesuai dengan variasi intensitas cahaya biasa disebut sinyal video (video signal).

Frekuensi dari sinyal video ini berkisar antara 30 Hz sampai 4 MHz, bervariasi sesuai dengan isi gambar. Pulsa-pulsa sinkronisasi adalah getaran-getaran energi listrik yang dibangkitkan oleh osilator pada stasiun pemancar televisi. Pulsa-pulsa ini mengontrol frekuensi scanning horizontal dan scanning vertikal pada kamera di statsion pemancar dan pada pesawat penerima.

Pulsa-pulsa Blanking menjadikan berkas elektron tidak beroperasi (tidak bekerja) selama elektron kembali dari unjung garis horizontal ke posisi awal garis horizontal berikutnya, serta selama elektron kembali dari bawah ke atas pada arah. Proses ini terjadi di dalam kamera di statsion pemancar dan di dalam pesawat penerima televisi.

RADIO

    1. Radio
Radio energi adalah bentuk level energi elektromagnetik terendah, dengan kisaran panjang gelombang dari ribuan kilometer sampai kurang dari satu meter. Penggunaan paling banyak adalah komunikasi, untuk meneliti luar angkasa dan sistem radar. Radar berguna untuk mempelajari pola cuaca, badai, membuat peta 3D permukaan bumi, mengukur curah hujan, pergerakan es di daerah kutub dan memonitor lingkungan. Panjang gelombang radar berkisar antara 0.8 – 100 cm. 

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah radio adalah sejarah teknologi yang menghasilkan peralatan radio yang menggunakan gelombang radio. Stasiun radio paling awal menggunakan sistem radiotelegrafi dan tidak membawa audio. Agar siaran audio dimungkinkan, perangkat deteksi dan amplifikasi elektronik harus digunakan.
Sejarah penemuan radio dimulai di Inggris dan Amerika SerikatDonald Mc. Nicol dalam bukunya Radio’s Conquest of Space menyatakan bahwa terkalahkannya ruang angkasa oleh radio dimulai tahun 1802 oleh Dane, yaitu dengan ditemukannya suatu pesan dalam jarak pendek dengan menggunakan alat sederhana berupa kawat beraliran listrik. Penemuan berikutnya adalah oleh tiga orang cendikiawan muda, di antaranya adalah James Maxwell berkebangsaan Inggris pada tahun 1865. Ia dijuluki scientific father of wireless, karena berhasil menemukan rumus-rumus yang diduga mewujudkan gelombang elektromagnetik, yakni gelombang yang digunakan radio dan televisi.[1]
Pada tahun 1896 ilmuwan Italia, Guglielmo Marconi mendapat hak paten atas telegraf nirkabel yang menggunakan dua sirkuit. Pada saat itu sinyal ini hanya bisa dikirim pada jarak dekat. Namun, hal inilah yang memulai perkembangan teknologi radio. Pada tahun 1897, Marconi kembali mempublikasikan penemuan bahwa sinyal nirkabel dapat ditransmisikan pada jarak yang lebih jauh (12 mil (19000 m)).[1]
Selanjutnya, pada tahun 1899 Marconi berhasil melakukan komunikasi nirkabel antara Prancis dan Inggris lewat Selat Inggris dengan menggunakan osilator Tesla. John Ambrose Fleming pada tahun 1904 menemukan bahwa tabung audion dapat digunakan sebagai receiver nirkabel bagi teknologi radio ini. Dua tahun kemudian ((Kanuri) 1901) Dr. Lee De Forest menemukan tabung elektron yang terdiri dari tiga elemen (triode audion). Penemuan ini memungkinkan gelombang suara ditransmisikan melalui sistem komunikasi nirkabel. Tetapi sinyal yang ditangkap masih sangat lemah.
Barulah pada tahun 1912 Edwin Howard Armstrong menemukan penguat gelombang radio disebut juga radio amplifier. Alat ini bekerja dengan cara menangkap sinyal elektromagnetik dari transmisi radio dan memberikan sinyal balik dari tabung. Dengan begitu kekuatan sinyal akan meningkat sebanyak 20.000 kali per detik. Suara yang ditangkap juga jauh lebih kuat sehingga bisa didengar langsung tanpa menggunakan earphone. Penemuan ini kemudian menjadi sangat penting dalam sistem komunikasi radio karena jauh lebih efisien dibandingkan alat terdahulu. Meskipun demikian hak paten atas amplifier jatuh ke tangan Dr. Lee De Forest.[1]
Penggunaan radio sebagai alat atau media komunikasi massa pada awalnya diperkenalkan oleh David Sarnoff pada tahun 1915. Selanjutnya Le De Forrest melalui eksperimen siaran radionya, yang telah menyiarkan kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 1916, sehingga ia dikenal sebagai pelopor penyiaran radio.[2]
Awalnya sinyal pada siaran radio ditransmisikan melalui gelombang data yang kontinu baik melalui modulasi amplitudo (AM), maupun modulasi frekuensi (FM). Metode pengiriman sinyal seperti ini disebut analog. Selanjutnya, seiring perkembangan teknologi ditemukanlah internet, dan sinyal digital yang kemudian mengubah cara transmisi sinyal radio.

Gelombang radio[sunting | sunting sumber]

Frekuensi gelombang radio untuk pengiriman suara
Gelombang radio bisa ditransmisikan melalui metode AM dan FM.
Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentuk ketika objek bermuatan listrik dari gelombang osilator (gelombang pembawa) dimodulasi dengan gelombang audio (ditumpangkan frekuensinya) pada frekuensi yang terdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF; "radio frequency")) pada suatu spektrum elektromagnetik, dan radiasi elektromagnetiknya bergerak dengan cara osilasi elektrik maupun magnetik.
Gelombang elektromagnetik lain yang memiliki frekuensi di atas gelombang radio meliputi sinar gammasinar-Xinframerahultraviolet, dan cahaya terlihat.
Ketika gelombang radio dikirim melalui kabel kemudian dipancarkan oleh antena, osilasi dari medan listrik, dan magnetik tersebut dinyatakan dalam bentuk arus bolak-balik dan voltase di dalam kabel. Dari pancaran gelombang radio ini kemudian dapat diubah oleh radio penerima (pesawat radio) menjadi signal audio atau lainnya yang membawa siaran, dan informasi.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran menyebutkan bahwa frekuensi radio merupakan gelombang elektromagnetik yang diperuntukkan bagi penyiaran, dan merambat di udara serta ruang angkasa tanpa sarana penghantar buatan, merupakan ranah publik, dan sumber daya alam terbatas. Seperti spektrum elektromagnetik yang lain, gelombang radio merambat dengan kecepatan 300.000 kilometer per detik. Perlu diperhatikan bahwa gelombang radio berbeda dengan gelombang audio.
Gelombang radio merambat pada frekuensi 100,000 Hz sampai 100,000,000,000 Hz, sementara gelombang audio merambat pada frekuensi 20 Hz sampai 20,000 Hz. Pada siaran radio, gelombang audio tidak ditransmisikan langsung melainkan ditumpangkan pada gelombang radio yang akan merambat melalui ruang angkasa. Ada dua metode transmisi gelombang audio, yaitu melalui modulasi amplitudo (AM) dan modulasi frekuensi (FM).
Meskipun kata 'radio' digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan alat penerima gelombang suara, namun transmisi gelombangnya dipakai sebagai dasar gelombang pada televisi, radio, radar, dan telepon genggam pada umumnya.

Rabu, 09 Januari 2019

Pengujian Ultrasonic

RABU, 21 MARET 2018

Pengujian Ultrasonic

Pengujian terhadap Sambungan Las pada Tiang Pancang

Tujuan pengujian ultrasonic adalah melakukan pengujian terhadap kualitas las yang digunakan untuk menyambung dua pipa tiang pancang. Pengujian
dilakukan dengan standart ANSI/AWS.DI.I (Structural Welding Code, 2002 Edition) dan Ultrasonic Examination Procedure for Steek Structure. (Doc No: UT22 HH).
Pengujian dengan menggunakan satu unit pesawat Ultrasonic model USK 7
Krautkramer dengan dilengkapi probe normal, probe sudut 70º Block kalibrasi V1 dan V2. Coupant yang digunakan adalah CMC. Pengujian material dengan metode ultrasonic digunakan gelombang transversal maupun longitudinal. Kedua gelombang tersebut dibangkitkan oleh suatu probe (transduser) yang juga berfungsi sebagai penerima gelombang.
Prisip dasar pengujian sambungan las tiang pancang dengan adalah dengan ultrasonic test merambatkan gelombang ultrasonic ke dalam material yang akan diuji melalui transducer probe.Apabila gelombang tersebut mengenai bidang yang tegak lurus dengan arah gelombang, maka akan dipantulkan kembali dan diterima oleh transducer probe dalam bentuk pulsa pada layar CRT (monitor ultrasonic) yang merupakan pulsa cacat (defecta) atau pulsa pantulan balik dari dinding belakang.
Pengujian Beban pada Tiang Pancang Baja
PDA test bertujuan untuk memverifikasikan kapasitas daya dukung tekan pondasi tiang pancang terpasang. Dari hasil-hasil pengujian akan didapatkan informasi besarnya kapasitas dukung termobilisir dengan faktor keamanan 2, dan dipakai untuk menilai apakah beban kerja rencana dapat diterima oleh tiang terpasang.
Pelaksanaan
Pengujian dilaksanakan sesuai ASTM D-4945, yang dilakukan dengan memasang dua buah sensor yaitu strain transduser dan accelerometer transduser pada sisi tiang dengan posisi saling berhadapan, dekat dengan kepala tiang. Kedua sensor tersebut mempunyai fungsi ganda, masing-masing menerima perubahan percepatan dan regangan. Gelombang tekan akan merambat dari kepala tiang ke ujung bawah tiang (toe) setelah itu gelombang tersebut akan dipantulkan kembali menuju kepala tiang dan ditangkap oleh sensor. Gelombang yang diterima sensor secara otomatis akan disimpan oleh komputer. Rekaman hasil gelombang ini akan menjadi dasar bagi analisa dengan menggunakan program TNOWAVE-TNODLT, di mana gelombang pantul yang diberikan oleh reaksi tanah akibat kapasitas dukung ujung dan gerak akan memberikan kapasitas dukung termobilisasi (mobilized capacity). Hasil Pengujian Angka penurunan yang diambil sebagai immediate displacement (perpindahan sesaat) saat beban mencapai kapasitas dukung dengan faktor keamanan (FK) = 2, dan tidak menyatakan penurunan konsolidasi. Beban kerja yang diharapkan per-tiang adalah 140 ton.
Dari hasil uji pembebanan dinamis meliputi kapasitas dukung termobilisasi, yang besarnya ditentukan oleh beban dan energi, maka kapasitas dukung termobilisasi dengan FK=2 yang dihasilkan dinilai memenuhi target beban rencana dengan penurunan (displacement) dan masih dalam batas yang aman.

sumber: http://bpws.go.id/index.php/pengendalian-mutu/item/206-pengujian-ultrasonic

SONIFIKASI

RABU, 21 MARET 2018

APA ITU SONIFIKASI?



Sonifikasi adalah prosespemberian energi gelombang ultrasonik pada suatu bahan (larutan atau campuran), sehingga bahan tersebut dapat dipecah menjadi bagian yang sangat kecil.

Di laboratoriumm, sonifikasi dilakukan dengan bantuan alat yang disebut sonikator. Pada alat pembuatan kertas, juga terdapat alat yang memancarkan gelombang ultrasonik pada serat selulosa, sehingga tersebar lebih merata dan menjadikan kertas lebih kuat.

Sonifikasi dapat digunakan untuk produksi nanopartikel seperti nanoemulsi dan nanokristal. Sonifikasi juga dapat mempercepat ekstaksi (pengambilan) minyak dari dalam jaringan tumbuhan dan pemurnian minyak bumi.

Pada aplikasi biologis, sonifikasi sering digunakan untuk merusak atau menonaktifkan material organik. Misalnya saja merusak membran sel dan melepaskan isi selulernya atau yang dikenal dengan istilah sonoporasi.

http://aimarpr.blogspot.com/2018/03/sonifikasi.html

PEMBERSIH ULTRASONIK



Ultrasonic Cleaner ( Pembersih Ultrasonik )



Pengertian Ultrasonic Cleaner ( Pembersih Ultrasonik )

Ultrasonic Cleaning atau ultrasonic cleaner adalah alat pembersih yang menggunakan gelombang ultrasonik (biasanya 20 -400Khz)  dan cairan pembersih khusus (minimal aquadest ) digunakan untuk membersihkan bagian alat atau glassware .
Gelombang Ultrasonik dapat digunakan dengan hanya menggunakan air biasa, tapi penambahan solvent khusus akan membantu membuat dampak lebih baik.
Proses pembersihan biasanya berlangsung 3 sampai 6 menit.
Dalam perkembangannya alat ini juga sekarang digunakan untuk melarutkan sample.
Alat ini cocok juga digunakan untuk membersihkan : Kacamata, perhiasan, peralatan kedokteran gigi, printer head, sisir, peralatan tatto, gigi palsu, arloji, dan lain sebagainya.

Karakteristik Proses Ultrasonic Cleaner

Pembersihan Ultrasonik menggunakan proses gelembung kavitasi yang diinduksi oleh tekanan frekwensi tinggi ( suara ) yang mengagitasi cairan.
Proses Agitasi menghasilkan tekanan besar pada bahan bahan yang melekat pada sampel seperti logam, plastik, gelas, karet atauu keramik. Tekanan ini juga masuk ke lubang lubang atau bagian terdalam dari sample.
Tujuan utama adalah memindahkan atau membersihkan segala kontaminasi pada sample padat.
Air atau cairan pembersih lainnya dapat digunakan tergantung dari jenis kontaminan dan bahan yang akan disonifikasi. Kontaminan dapat berupa debu, minyak, pigmen, karat, lemak, ganggang, jamur, bakteri, pengapuran , senyawa polishing, flux agent, sidik jari, jelaga lilin, residu khamir, cairan biologi seperti darah dan lain lain.
Pembersihan Ultrasonic dapat digunakan untuk berbagai ukuran, jenis dan material alat bantu kerja. Dan tidak perlu memisahkan bagian bagian pada saat pembersihan.
Sample tidak boleh diletakkan dibagian bawah alat selama proses pembersiahan, karena akan mencegah proses cavitasi pada sampel yang tidak terkena dengan air. Karena itu dibutuhkan rak atau keranjang untuk menahan object diatas bagian bawah.

Frekuensi Ultrasonic Cleaner

Saat ini kita bisa mendapat sistem ultrasonik dengan frekwensi antara 20 sampai 950 KHz, yang dapat dipilih berdasarkan pekerjaan yang akan digunakan, jenis kontaminan yang akan dibersihkan dan tingkat kebersihan yang akan dicapai.
Kenyataannya, kebanyakan sistem saat ini mempunyai lebih dari satu frequensi ultrasonik. Alat tersebut mungkin akan menggunakan 40/70/170 untuk pembersihan secara bertahap
Frekwensi umum yang bisa digunakan adalah 20-40 untuk pembersihan berat pada peralatan seperti mesin blok logam berat, tanah yang sangat berminyak .
frekwensi 4- -70 kHz digunakan untuk pembersihan umum dari bagian optik mesin , sangat baik untuk membersihkan partikel kecil.
Frekwensi 70-200 kHz digunakan untuk pembersihan ringan secara ultra dari optik, semikonduktor, disk drive dl

https://digital-meter-indonesia.com/ultrasonic-cleaner-pembersih-ultrasonik/

Pengertian dan Cara Kerja Ultrasound

Pengertian dan Cara Kerja Ultrasound

Ultrasound


Terapi ultrasound adalah metode pengobatan yang menggunakan teknologi ultrasound atau gelombang suara untuk merangsang jaringan tubuh yang mengalami kerusakan. Walaupun telah lama digunakan di bidang kedokteran untuk berbagai tujuan, teknologi ultrasound lebih dikenal sebagai alat pemeriksaan daripada sebagai alat terapi. Salah satu keuntungan terapeutik dari ultrasound yang belum terlalu dikenal adalah pengobatan cedera otot. Oleh karena itu, terapi ultrasound sering digunakan dalam pengobatan muskuloskeletal dan cedera akibat olahraga.
Keberhasilan penggunaan teknologi ultrasound sebagai alat terapi bergantung pada kemampuannya untuk merangsang jaringan yang ada di bawah kulit dengan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi, mulai dari 800.000 Hz – 2.000.000 Hz. Efek penyembuhan dari ultrasound pertama ditemukan pada sekitar tahun 1940. Awalnya, terapi ini hanya digunakan oleh terapis fisik dan okupasi. Namun, saat ini penggunaan terapi ultrasound telah menyebar ke cabang ilmu kedokteran lainnya.

1. Fisika Dasar Ultrasound
      a. Efektif Radiating Area (ERA)
          Permukaan tranduser tidak semuanya memancarkan gelombang ultrasound melainkan     
          hanya permukaan tertentu yang disebut efektif radiating area. Oleh sebab itu ERA
          merupakan tolak ukur yang tentu dalam penentuan dosis. Sifat bekas gelombang
          Ultrasound
          Sifat berkas gelombang ultrasound dibedakan atas dua bagian yaitu :
          Area Convergensi, ciri-cirinya adalah :
              1) Terjadi gejala interferensi pada daerah yang tidak homogen pada berkas tersebut    
                  sehingga timbul variasi intensitas yang besar yang disebut dengan intensity peaks
                  sedangkan gejala interferensi yang tidak homogen disebut Beams Non Uniformity
                  Ratio (BNR). BNR tidak bisa dihilangkan sama sekali. Nilai normalnya adalah 4
                  sampai 6 kali intensity peaks
              2) Bentuk berkasnya convergensi dimana panjang area convergensi ditentukan oleh
                  diameter tranduser
              3) Penyebaran berkasnya lebih terpusat, hal ini juga tergantung pada frekuensi dan
                  diameter tranduser, dimana bila frekuensi tinggi maka panjang area convergensi akan
                  panjang demikian pula jika tranduser besar maka area konvergensi semakin panjang
          Area Divergensi, ciri-cirinya adalah :
              1) Tidak terjadi gejala interferensi yang menyebabkan berkas gelombang sama
              2) Berkas gelombang yang menyebar
      b. Fenomena fisik yang terjadi pada ultrasound
          1) Bentuk Gelombang
              Bentuk gelombang ultrasound adalah longitudinal yang memerlukan medium yang
              elastis sebagai media perlambatan. Setiap medium elastis kecuali yang hampa udara.
              Gelombang elastis longitudinal menyebabkan kompresi dan ekspansi medium pada
              jarak separuh gelombang yang menyebabkan variasi tekanan pada medium
          2) Refleksi atau pemantulan
              Refleksi atau pemantulan terjadi bila gelombang ultrasound melalui dua media yang
              berbeda. Banyaknya energi yang dipantulkan tergantung independence acuistik spesifik
              dari berbagai media.Karena faktor pemantulan gelombang pada permukaan media,
              maka energi paling besar pada jaringan interface.
          3) Penyebaran Gelombang ultrasound
              Penyebaran gelombang ultrasound atau divergensi dalam tubuh timbul karena adanya
              divergen dan adanya refleksi. Di dalam jaringan bundel ultrasound dapat menyebar oleh
              karena adanya refleksi sehingga timbul efek-efek di luar daerah pancaran bundle
              ultrasound
          4) Penyerapan dan Penetrasi Ultrasound
              Jika gelombang ultrasound masuk ke dalam jaringan maka efek yang diharapkan adalah
              efek biologis. Oleh karena adanya penyerapan tersebut maka semakin dalam gelombang
              ultrasound masuk dan intensitasnya semakin berkurang. Gelombang ultrasound diserap
              oleh jaringan dalam berbagai ukuran tergantung pada frekuensi, frekuensi rendah
              penyerapannya lebih sedikit dibandingkan dengan frekuensi tinggi. Jadi ada
              ketergantungan antara frekuensi, penyerapan dan kedalaman efek dari gelombang
              ultrasound. Disamping itu refleksi, koefisien penyebaran menentukan penyebarluasan
              ultrasound di dalam jaringan tubuh.
Tabel 1. Koefisien Penyerapan pada Frekuensi 1 MHz dan 3 MHz
Medium
Frek. 1 MHz
Frek. 3 MHz
Darah
Pembuluh darah
Tulang
Kulit
Tulang rawan
Udara
Tendon
Otot
Lemak
Air (20°C)
Serabut saraf
0,028
0,4
3,22
0,62
1,16
2,27
1,12
0,76
0,28
0,14
0,0006
0,2
0,084
1,2
-
1,86
3,48
8,28
3,38
2,28
0,84
0,42
0,0018
0,6

Dari tabel di atas, nampak ada dua nilai absorbsi di dalam jaringan otot. Adanya perbedaan yang penting disini adalah karena arah dari bundel ultrasound terhadap jaringan otot. Pertama, jika bundel ultrasound jatuh secara tegak lurus terhadap jaringan otot. Kedua, jika bundel ultrasound berjalan sejajar dengan jaringan otot. Pada keadaan yang kedua nilai absorbsinya hampir tiga kali lebih kecil. Sebuah satuan yang lebih praktis dalam hal penyebaran adalah Half Value Depth atau jarak nilai setengah (HVD). Yang dimaksud jarak nilai setengah adalah jarak dimana intensitas dari ultrasound dalam suatu media tertentu tinggal separuh. Jarak nilai setengah ini ditentukan koefisien penyerapan

Tabel 2. Jarak Nilai Setengah Pada Beberapa Medium
Medium
Frek. 1 MHz
Frek. 3 MHz
Tulang
Kulit
Tulang rawan
Udara
Tendon
Otot
Lemak
Air (200C)
2,1 mm
11,1 mm
6 m
2,5 mm
2,5 mm
9 mm
24,6 mm
50 mm
11500 mm
-
4 mm
2 mm
0,8 mm
0,8 mm
3 mm
16,5 mm
16,5 mm
3833,3 mm
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa banyaknya energi ultrasound diserap dalam jaringan tendon dan jaringan tulang rawan. Penetrasi terdalam, dimana efek terapeutik masih bisa kita harapkan dinyatakan dalam istilah “Penetration Depth” adalah merupakan suatu titik dimana intensitas ultrasound yang diberikan masih tersisa 10%
          5) Pembiasan
              Pembiasan gelombang ultrasound ditentukan oleh nilai indeks tiap-tiap media pada
              jaringan, dimana indeks bias ditentukan oleh kecepatan gelombang ultrasound pada         
              tiap-tiap medium. Nilai indeks bias (n) = 1 berarti tiap pembiasan sedangkan nilai
              indeks bias lebih dari 1 berarti pembiasan mendekati garis normal dan jika indeks bias
              kurang dari 1 berarti pembiasan menjauhi garis normal. Besarnya pembiasan ditentukan
              oleh sudut datang dan kecepatan gelombang suara pada media yang dilaluinya.
          6) Coupling Media
              Untuk dapat meneruskan gelombang ultrasound ke dalam jaringan tubuh maka
              dibutuhkan suatu medium yang berada antar tranduser dan permukaan tubuh yang akan
              diultrasound Adapun ciri-ciri coupling media yang baik pada penggunaan ultrasound
              secara umum adalah :
                        a) Bersih dan steril
                        b) Tidak terlalu cair kecuali metode under water
                        c) Tidak terlalu cepat diserap oleh kulit
                        d) Transparansi
                        e) Mudah dibersihkan
2. Efek Ultrasound
       a. Efek Mekanik
           Bila gelombang ultrasound masuk ke dalam tubuh maka akan menimbulkan pemampatan
           dan peregangan dalam jaringan sama dengan frekuensi dari mesin ultrasound sehingga
           terjadi variasi tekanan dalam jaringan. Dengan adanya variasi tersebut menyebabkan efek
           mekanik yang sering disebut dengan istilah “micromassage” yang merupakan efek
           terapeutik yang sangat penting karena hampir semua efek ini sangat diharapkan sehingga
           pada daerah micro tissue damage baru yang memacu proses inflamasi fisiologis.
       b. Efek Panas
           Micromassage pada jaringan akan menimbulkan efek “friction” yang hangat. Panas yang
           ditimbulkan oleh jaringan tidak sama tergantung dari nilai “acustic independance”,
           pemilihan bentuk gelombang, intensitas yang digunakan dan durasi pengobatan. Area
           yang paling banyak mendapatkan panas adalah jaringan “interface” yaitu antara kulit dan
           otot serta periosteum. Hal ini disebabkan oleh adanya gelombang yang diserap dan
           dipantulkan. Agar efek panas tidak terlalu dominan digunakan intermitten ultrasound yang
           efek mekanik lebih dominan dibandingkan efek panas. Pada tendon dan otot akan
           meningkatkan temperatur sebesar 0,07 derajat Celcius perdetik. Pengukuran ini dilakukan
           pada sebuah model jaringan otot. Jadi tanpa adanya efek regulasi dari sirkulasi darah.
       c. Efek Biologis
           Efek lain dari micromassage adalah efek biologis yang merupakan refleks fisiologis dari
           pengaruh mekanik dan pengaruh panas. Efek biologis yang ditimbulkan oleh ultrasound
          antara lain :
             1) Meningkatkan sirkulasi darah
                  Salah satu efek yang ditimbulkan oleh ultrasound adalah panas sehingga tubuh
                  memberikan reaksi terhadap panas tersebut yaitu terjadinya vasodilatasi, hal tersebut
                  disebabkan oleh :
                  a) Adanya pembebasan zat-zat pengiritasi jaringan yang merupakan konsekuensi dari
                      sel-sel tubuh yang rusak sebagai akibat dari mekanisme vibrasi
                  b) Adanya iritasi langsung pada serabut saraf efferent atau bermielin tebal. Iritasi ini                 
                      mengakibatkan terjadinya post excitatory depression dalam aktivitas orthosympatik
             2) Rileksasi Otot
                  Dengan adanya efek panas maka akan mengakibatkan vasodilatsi pembuluh darah
                  sehingga terjadi perbaikan sirkulasi darah yang mengakibatkan rileksasi otot. Hal ini
                  disebabkan oleh karena zat-zat pengiritasi diangkut oleh darah disamping itu efek
                  vibrasi ultrasound mempengaruhi serabut afferent secara langsung dan
                  mengakibatkan rileksasi otot.
             3) Meningkatkan Permeabilitas Membran
                  Melalui mekanisme getaran gelombang ultrasound maka cairan tubuh akan didorong
                  ke membran sel yang menyebabkan perubahan konsentrasi ion sehingga
                  mempengaruhi nilai ambang dari sel-sel.
             4) Mempercepat proses penyembuhan jaringan
                  Dengan pemberian ultrasound akan menyebabkan terjadinya vasodilatasi pembuluh
                  darah sehingga meningkatkan suplai bahan makanan pada jaringan lunak dan juga
                  terjadi peningkatan antibody yang mempermudah terjadinya perbaikan jaringan yang
                  rusak. Disamping itu akibat dari efek panas dan efek mekanik yang ditimbulkan oleh
                  ultrasound menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan secara fisiologis yang
                  mengakibatkan terjadinya reaksi radang yang diikuti oleh terlepasnya “P” substance,
                  prostaglandin, bradikin dan histamine yang mengakibatkan terangsangnya serabut
                  saraf bermyelin tipis sehingga timbul rasa nyeri. Namun dengan terangsangnya “P”
                  substance tersebut mengakibatkan proses induksi proliferasi akan lebih terpacu
                  sehingga mempercepat terjadinya penyembuhan jaringan yang mengalami cedera.
                  Reaksi “P” substance bersama neurotransmitter lainnya seperti histamine, bradikinin
                  dan prostaglandin merupakan kelompok senyawa amin yang ikut berperan dalam
                  reaksi radang yang terjadi oleh karena adanya kerusakan jaringan akibat trauma atau
                  stimulus mekanik, stimulus elektris maupun stimulus kimia. Reaksi “P” substance
                  tersebut dapat bersifat vascular dan reaksi seluler yang pada prinsipnya memacu
                  induksi proliferasi fibroblast pada fase pembentukan jaringan kollagen muda sebagai
                  proses regenerasi awal yang dimulai sejak 24-30 jam pertama. “P” substance juga
                  merupakan salah satu neurotransmitter yang sangat bermanfaat bagi dimulainya
                  proses regenerasi jaringan. Pada fase akut nocisensorik akan teriritasi oleh reaksi
                  kimia akibat “P” substance di sekitar lesi. Dengan demikian maka pada fase akut
                  suatu peradangan akan ditandai dengan nyeri yang hebat.
            5) Mengurangi Nyeri
                 Nyeri dapat dikurangi dengan menggunakan ultrasound, selain dipengaruhi oleh efek
                 panas juga berpengaruh langsung pada saraf. Hal ini disebabkan oleh karena
                gelombang pula dengan intensitas rendah sehingga dapat menimbulkan pengaruh
                sedative dan analgesi pada ujung saraf afferent II dan IIIa sehingga diperoleh efek
                terapeutik berupa pengurangan nyeri sebagai akibat blockade aktivitas pada HPC
                melalui serabut saraf tersebut.
      d. Indikasi Ultrasound
             1) Kelainan-kelainan / penyakit pada jaringan tulang sendi dan otot
             2) Keadaan-keadaan post traumatik
             3) Fraktur
             4) Rheumathoid Arthritis pada stadium tidak aktif
             5) Kelainan / penyakit pada sirkulasi darah
             6) Penyakit-penyakit pada organ dalam
             7) Kelainan / penyakit pada kulit
             8) Luka bakar
             9) Jaringan parut oleh karena operasi
           10) Kontraktur
      e. Kontra Indikasi Ultrasound
            1) Mata
            2) Jantung
            3) Uterus pada wanita hamil
            4) Epiphysela plates
            5) Testis
            6) Post laminectomi
            7) Hilangnya sensibilitas
            8) Tumor
            9) Diabetes Mellitus (DM)
          10) Trombhoplebitys dan Varises

http://fisiookta.blogspot.com/2016/05/ultrasound-terapi-ultrasoundadalah.html